Green Economy - Dewi Lestari

Green Economy - Dewi Lestari

Hasilkan US$ 120.000/Ha per 5 tahun atau Rp. 5 Milyar per Ha dalam 10 tahun TANPA TANAM ULANG !!!

Pemesanan bibit Paulownia & Sengon Solomon 2009 sudah tutup, silakan pesan untuk tahun depan. Aren var. Dalam & Gaharu masih buka.Maaf , tidak jual Paulownia elongata dalam bentuk biji , karena perkecambahan dengan biji tanpa pengalaman yang cukup rasio hasilnya sangat rendah , 0,5 - 5 %. Kami kuatir mengecewakan pembeli. Jika ada yang menjual dalam bentuk biji , saya pikir yang bersangkutan perlu bertanggung jawab kepada pembeli jika hasil semai sangat rendah.Investasi pasti di lahan milik Anda. Dapatkan konsultasi gratis hanya dengan memesan bibitnya , bukan perjanjian bagi hasil.Menanam Paulownia, hasil kayu tebangannya US$ 120.000/hektar setiap 5 tahun tanpa tanam ulang tumbuh lagi. Klik di sinihttp://www.paulowniaindonesia.blogspot.com/Cara berkebunnya klik di sini :http://www.budidayapaulownia.blogspot.com/
Atau Jati Solomon , yang akan menghasilkan Rp. 3 Milyar per hektar dalam 9 - 10 tahun. Klik di sini :
www.jatisolomon.blogspot.com
Tumpangsari dengan Aren , akan menghasilkan Rp. 5 milyar dalam 10 tahun. Klik di sini :http://www.bibitaren.blogspot.com/
Atau alternatif lain yang tak kalah hebat adalah tumpang sari dengan gaharu ( Aquilaria malaccensis ). Info lengkap di
http://www.bibitgaharu.blogspot.com/
Lahan milik Anda. Ini bukan penawaran kerjasama bagi hasil atau titip modal. Kami murni jual bibit ,hasil total menjadi hak Anda. GRATIS konsultasi. Baca uraian di blog ini untuk melihat hitungan bisnisnya.
Tunggu apa lagi , KESUKSESAN sudah ada di tangan ANDA.Jangan tergiur dengan tipuan titip modal , reksadana yang tidak jelas dsb. Sudah banyak korbannya. Ambil langkah cepat , agar Anda jadi yang pertama memanen kebun Paulownia milik Anda sendiri !!!Liputan mengenai Pembibitan Paulownia Kami Ada di Majalah TRUBUS edisi Mei 2009 halaman 133. Hubungi : multivalentprima@gmail.com atau 0858 66 231 777 ( Rudy )

Ingin Kebun Anda Hasilnya Meningkat 250 % ?

Gunakan pupuk mikoriza. Klik di bawah ini :
www.pupukmikoriza.blogspot.com

Monday, September 28, 2009

Keladi Tikus ( Typhonium flagelliforme )



KLIK FOTO PERTUMBUHAN PAULOWNIA ELONGATA DI BAWAH INI. TAMBAH 1 METER DALAM 30 HARI !!!


Kesaksian dari Pak Haryono - Gatot Subroto -Denpasar , Bali , yang menanam di Tabanan :



" Bibit saya terima Maret 2010 ukuran 35 cm diameter 5 mm,waktu itu saya agak tidak yakin karena penampilannya sama saja dengan bibit sengon yang biasa saya tanam dan lihat. Anak buah saya juga berpendapat seperti itu. Pak Rudy meminta saya bersabar 3 bulan.Dalam waktu 75 hari sejak saya tanam di lahan, tingginya menjadi 250 cm diameter batangnya 3 cm. Saya menerapkan petunjuk lengkap yang saya terima dari Pak Rudy.Saya juga menggunakan pupuk mikroba penyubur dari Pak Rudy ( www.pupukmikoriza.blogspot.com ) Orang - orang mulai bertanya , sengon jenis apa ini. Bahkan ada yang mengira saya berbohong tentang usianya. Saya makin banyak menanam sekarang , karena saya yakin akan keunggulan bibit ini. Bahkan saya telah sepakat dengan Pak Rudy untuk menjadi agen bibit ini di Bali. Saya tidak ragu lagi. Luar biasa!
" ( Bp. Haryono , Agen kami di Bali sejak 1 Juli 2010 , telp. 0361 746 2226 ).



Kami menjual bibit keladi tikus dalam jumlah besar. Minimal pengambilan 500 batang , harga @ Rp. 5.000 , belum termasuk ongkos kirim. Tinggi bibit dalam boks plastik @ 5 - 10 cm. Hubungi 0858 66 231 777 atau multivalentprima@gmail.com

Berikut cuplikan Liputan Majalah TRUBUS , Majalah Agrobisnis nomor 1 di Indonesia mengenai Keladi Tikus :

Sejumlah kesaksian pemakaian keladi tikus untuk mengatasi kanker-kebanyakan dikombinasikan dengan pengobatan modern-pun bermunculan saat para wartawan Anda melakukan peliputan. Kanker payudara stadium 3, kanker paru-paru, kanker serviks stadium 2B, kanker leukemia stadium 2A, adalah beberapa contoh kanker yang diderita oleh para narasumber. Dari lembaga penelitian, uji aktivitas antiradikal bebas telah dilakukan terhadap keladi tikus. Toh, tidak semua kanker dapat dilawan dengan tanaman itu. Yelia Mangan, herbalis dari Jakarta mewanti-wanti, dosis berlebihan dari keladi tikus berbahaya pada hati, sehingga ia tidak pernah meresepkannya untuk penderita kanker hati.
Bagaimana mekanisme keladitikus mengatasi sel kanker? 'Keladitikus mampu memblokir perkembangan sel-sel kanker dan tumor,' kata Wahyu Suprapto, herbalis di Kota Batu, Jawa Timur, dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga yang meresepkan keladitikus. Menurut Lina Mardiana keladitikus menghambat pertumbuhan sel kanker sekaligus meningkatkan stamina pasien.

Dr Dyah Iswantini, periset di Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor, membuktikan keladitikus sebagai antikanker. Dyah meneliti daya hambat ekstrak air dan etanol keladitikus terhadap aktivitas tirosin kinase. Enzim tirosin kinase mempengaruhi perkembangan sel-sel kanker di tubuh manusia.

Daya hambat ekstrak etanol dan air panas berkonsentrasi 700 ppm melebihi daya hambat genistein-senyawa antikanker. Sedangkan ekstrak keladitikus dengan air demineralisasi menghambat 76,10% enzim tirosin; daya hambat genistein Cuma 12,89%. 'Adanya daya hambat itu menunjukkan keladitikus berpotensi sebagai antikanker,' kata Dyah.

Riset itu sejalan dengan penelitian Peni Indrayudha dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ia membuktikan ekstrak natriumklorida daun keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins (RIPs). Peni menginkubasikan DNA plasmid (pUC18) dengan sejumlah protein dari ekstrak daun Typhonium flagelliforme pada suhu kamar selama 1 jam.

Ekstrak daun keladitikus terbukti memotong rantai DNA sel kanker sehingga berbentuk menjadi nick circular alias lingkaran semu sebagaimana tampak di bawah sinar ultraviolet. RIPs merupakan protein dengan aktivitas mampu memotong rantai DNA atau RNA sel. Dampaknya pembentukan protein sel pun terhambat sehingga sel kanker gagal berkembang.

Pada pengobatan, RIPs menonaktifkan perkembangan sel kanker dengan cara merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya. Selain itu RIPs juga memblokir pertumbuhan sel kanker. Ekstrak keladitikus yang mengandung RIPs mampu memotong rantai DNA sel kanker.

Sel bunuh diri
Riset lain dilakukan oleh Chee Yan Choo dari Sekolah Farmasi Universitas Sains Malaysia. Chee menguji ekstrak umbi dan daun keladitikus terhadap aktivitas sitotoksik pada sel leukaemia P388. Hasilnya IC50 ekstrak kloroform umbi mencapai 6,0 μg/ml; ekstrak heksan 15,0 μg/ml. Kloroform dan heksan adalah pelarut yang digunakan untuk memperoleh senyawa aktif dalam sediaan herbal. Sedangkan IC50 ekstrak kloroform daun 8,0 μg/ml; IC50 ekstrak heksan daun 65,0 μg/ml.

IC50 (IC=inhibition consentration) adalah konsentrasi yang mampu menghambat 50% sel kanker. Semakin kecil angka IC50 kian bagus karena berarti dosis yang digunakan kian kecil. Pada riset itu, untuk menghambat 50% sel kanker, cuma diperlukan 6,0 μg/ml ekstrak kloroform umbi keladitikus.

'Keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins (RIPs). RIPs merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan di sekitarnya,' kata Peni Indrayudha.

Pembuktian lainnya dilakukan oleh Choo Sheen Lai dari Pusat Penelitian Obat Universitas Sains Malaysia. Ia menemukan senyawa antikanker dalam keladitikus bernama fitol. Mekanisme fitol melawan sel kanker dengan cara apoptosis. Sel kanker terlampau 'sakti' sehingga tak pernah mati. Nah, fitol memberikan pisau tajam kepada sel kanker. Yang terjadi kemudian, sel kanker bunuh diri. Ketika itulah pasien sembuh.

Kasus Patoppoi
Bukti dari laboratorium menyebabkan kian mencorongnya pamor keladitikus dalam setahun terakhir. 'Saya melihat masyarakat frustasi atas pengobatan kimia. Obat kimia menjanjikan kesembuhan luar biasa, tetapi menimbulkan efek samping pada jangka panjang. Deposit obat kimia yang tak dieliminasi tubuh mempengaruhi kualitas darah dan kesehatan seseorang,' kata Ali Mashuda SSi Apt, apoteker lulusan Universitas Gadjah Mada.

Dampaknya muncul berbagai penyakit. Setelah obat-obatan kimiawi tak kunjung menyembuhkan, pasien berharap kesembuhan dengan konsumsi herbal seperti keladitikus. Keladitikus pertama kali mencuat setelah Sri Hatmini Patoppoi sembuh dari kanker payudara stadium III pada 2000. Semula Patoppoi Pasau-suami Sri Hatmini-berupaya mencari pengobatan alternatif.
Patoppoi kemudian mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh lin qi di Malaysia untuk mengobati kanker. Saat itu ia langsung ke Malaysia untuk membeli teh. Di sebuah toko obat di sana, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. Setelah membaca sekilas, ia langsung membeli buku itu dan batal membeli teh lin qi. Di bab 7 halaman 86 buku itu Patoppoi membaca khasiat Typhonium flagelliforme sebagai antikanker.

Di Malaysia keladitikus populer setelah Chris KH Teo membantu mengobati Benedict Yeoh, pengidap kanker lever yang akhirnya sembuh. Berita kesembuhan itu cepat menyebar sehingga banyak yang datang ke rumahnya di Penang, Malaysia. Ketika tiba di Jakarta, Patoppoi memberikan air rebusan umbi keladitikus kepada istrinya yang akhirnya lolos dari maut setelah rutin mengkonsumsi tanaman obat itu. Saat itu keladitikus menjadi bahan pembicaraan.

Trubus kembali menemui Sri Hatmini pada 16 April 2009. Ia tampak bugar pada usianya yang akan genap 70 tahun pada bulan ini. Setelah sembuh kanker payudara, perempuan kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 25 Juni 1939 itu membantu penyembuhan pasien beragam kanker. Setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pasien kanker dari berbagai kota seperti Medan, Pekanbaru, dan Manado, mengalir ke rumahnya di Kayuputih, Jakarta Timur.

Pada 'jam praktek' pukul 08.00-12.00 ia menerima 20-30 pasien per hari. Jumlah itu meningkat pesat ketimbang pasien yang datang pada tahun pertama setelah ia sembuh. Saat itu cuma beberapa pasien yang berkunjung. Sri Hatmini memberikan ekstrak umbi keladitikus kepada para pasien. Dalam 2 hari, 50 botol masing-masing berisi 50 kapsul diminta pasien.

Salah sangka
Penelusuran Trubus, setahun terakhir banyak dokter dan herbalis meresepkan keladitikus kepada para pasien. Sekadar menyebut beberapa contoh adalah dr Henry Naland SpBOnk di Jakarta, dr Eliya (Banten), dr Ivan Hardi (Surabaya), dan Agus Salim (Malang). Dokter-dokter di Klinik Karyasari-tersebar di 4 tempat di Jakarta-juga meresepkan keladitikus.

Untuk mengkonsumsi herbal itu, pasien melumat seluruh bagian tanaman keladitikus segar. Setelah menambahkan 2 sendok air matang, memeras, lalu meminum hasil perasan itu. Frekuensi konsumsi 3 kali sehari. Cara lain dengan menelan 3 kapsul 3 kali sehari.

Dosis anjuran untuk terapi 3 kali sehari, sejam sebelum makan. Bagi yang memiliki masalah lambung, sebaiknya mengkonsumsi jus keladitikus setelah makan. Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo, guru besar Farmasi Universitas Indonesia, dosis 3 kapsul 3 kali sehari sangat aman dan tak berefek samping bagi kesehatan. Beberapa herbalis dan dokter yang mersepkan keladitikus selama 5 tahun, belum menemukan efek samping keladitikus.

Secara empiris dan ditunjang bukti ilmiah, keladitikus berkhasiat obat. Namun, mengkonsumsi keladitikus tak semudah bayangan banyak orang. Pertama, banyak orang belum mengetahui secara pasti tanaman keladitikus. Seorang eksekutif di Jakarta mengira tanaman setinggi semeter sebagai keladitikus. Ia mengirimkan surat elektronik disertai foto tanaman talas-talasan yang disangkanya keladitikus. Bila salah mengenali tanaman, pasien mungkin tak memperoleh khasiat keladi tikus.

Selain itu mengolah tanaman itu juga harus tepat. Salah olah menyebabkan gatal tenggorokan. Alih-alih sembuh, pasien malah mendapat 'penyakit' baru. Pemakaian keladitikus secara tunggal, perlu riset lebih lanjut. Menurut Dr Chris KH Teo, ahli keladitikus dari Malaysia, keladitikus bukan peluru ajaib yang menyembuhkan aneka penyakit. Itu senada dengan pendapat dr Paulus Wahyudi Halim.

Dokter alumnus Degli Studi Padova, Italia, itu mengatakan pengobatan kanker melibatkan banyak faktor. 'Tak bisa diobati dengan satu obat saja. Sebuah obat membutuhkan obat lain untuk melengkapi khasiat. Sebab tak ada obat yang multifungsi dan diterima tubuh dengan baik,' kata Paulus.

Terlepas dari perbedaan itu, permintaan keladitikus sangat besar. Banyak pasien mengharap kesembuhan dengan konsumsi keladitikus. Dampaknya permintaan herba segar dan olahan keladitikus pun meningkat. Ali Mashuda, yang juga produsen herbal di Purwakarta, Jawa Barat, mengatakan penjualan keladitikus per bulan mencapai 600 botol masing-masing terdiri atas 50 kapsul. Jumlah itu meningkat 100% ketimbang tahun lalu.

Boni Patoppoi, produsen keladitikus di Sidoarjo, Jawa Timur, juga mengalami peningkatan permintaan. Rata-rata ia memproduksi 100 botol masing-masing 50 kapsul sepekan. Harga sebuah botol Rp75.000. Volume produksi itu meningkat 100% ketimbang 6 tahun lampau saat Boni mulai mengolah keladitikus. Keladitikus yang kini banyak diminta itu hanya salah satu pilihan untuk mencapai kesembuhan atau menjaga kesehatan. Itu pun bukan satu-satunya faktor penentu, masih banyak faktor lain yang mempengaruhi kesembuhan seseorang.

Dalam bahasa China, keladitikus disebut shui banxia yang berarti tanaman obat beracun yang hidup di air atau tempat lembap. 'Karena tumbuh di tempat yang lembap, sifat tumbuhan itu hangat dan pedas sehingga sangat cocok mengobati penyakit-penyakit lendir,' kata dr William Adi Teja MMed, dari Klinik Utomo Chinese Medical Center, Jakarta. Penyakit lendir dibagi dua, di luar dan di dalam tubuh. Penyakit lendir di luar tubuh seperti dahak akibat penyakit flu dan batuk. Sedangkan yang di dalam tubuh mengendap dan menggumpal menjadi kanker.

Namun, menurut alumnus Beijing University of Traditional Chinese Medicine, China, itu, sifat hangat dan pedas keladitikus berefek buruk bagi tubuh yang kering. Oleh karena itu, orang yang gampang haus dan penderita diabetes dilarang mengkonsumsi.

Selain untuk kanker, 'Keladitikus juga baik untuk penyakit gangguan ritme jantung seperti penyakit gagal jantung, karena bentuk daunnya seperti jantung,' kata Wiliam. Itu berdasarkan 2 kitab kuno Huang Di Nei Jing (artinya Kitab Kaisar Kuning) dan Wai Tai Mi Yao (Resep Rahasia). Dosis yang dianjurkan untuk penyakit jantung sama dengan penderita kanker, yaitu 10-15 g ekstrak keladitikus kering diseduh dengan air 150 ml dikonsumsi 2 kali sehari.

William mewanti-wanti tanaman obat dari keluarga Banxia hampir semua beracun. Oleh karena itu mesti hati-hati dalam pengolahannya. Akar dan umbi keladitikus direndam air selama 7 hari, kemudian direndam kembali dengan air rebusan jahe. Akar itu kemudian dipanaskan dengan uap sulfur. Hasilnya, akar dan umbi keladitikus yang tadinya berwarna putih menjadi kuning terang. Setelah itu, umbi dan akar Typhonium flagelliforme itu bisa dikeringkan dan dikonsumsi. Cara lain dengan langsung mengkonsumsi jahe segar sesudah minum jus keladitikus, sebab antioksidan jahe menetralisir racunnya.

Jika pengolahan tidak benar, gejala keracunan seperti nadi melemah, mual, dan muntah bakal menyerang segera setelah konsumsi. Efek lain, gatal. Terutama orang yang alergi dengan jenis racun yang terkandung dalam keladitikus. 'Padahal, racun itulah zat utama pengerat kanker,' kata Wiliam. (Vina Fitriani).

FRAMBUSIA
Keladitikus bukan hanya mujarab mengatasi beragam penyakit maut seperti kanker dan tumor. Umbi kerabat aglaonema itu juga manjur mengakhiri penderitaan akibat koreng dan frambusia alias patek-penyakit kulit akibat bakteri yang mudah menular. Caranya dengan melumatkan umbi keladitikus yang sudah direndam setengah jam, tempelkan di atas luka, dan tutup dengan kain. Itulah resep dari Rubiyantoro, herbalis di Pekayonjaya, Bekasi, Jawa Barat.***

RENDAM
Keladitikus memang memberi efek gatal jika getah terkena kulit. Toto Suhendro, herbalis di Cijaura, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, menyarankan untuk merendam herbal itu di air bersih selama 30 menit. Seluruh bagian tanaman harus tenggelam. Cara itu mengurangi intensitas rasa gatal. Perendaman menekan getah umbi keladitikus. Dampaknya gatal pun berkurang.***

MUAL
Jika usai mengkonsumsi keladitikus, perut mual tak perlu khawatir. Mual, biasanya diikuti diare, hal lumrah. Itu pertanda obat tengah bekerja. Hal itu hanya berlangsung 1-2 hari. Oleh karena itu tetaplah menelan kapsul keladitikus. Namun, jika muntah sebaiknya kurangi dosis pada konsumsi berikutnya. Yang pasti perempuan hamil dilarang mengkonsumsi keladitikus.***

DI USIA MUDA, 26 TAHUN, MIA PUTRI-BUKAN NAMA SEBENARNYA-SUDAH HARUS BERGELUT MELAWAN KANKER USUS. TUMOR GANAS SEBESAR TELUR AYAM BERCOKOL DI USUS BESARNYA. PADAHAL DI INDONESIA, KANKER YANG MENYERANG 1,8 PER 100.000 PENDUDUK ITU BIASANYA DITEMUI PADA PRIA DAN WANITA DI ATAS USIA 50 TAHUN.

Awalnya Mia sering mengeluh sakit perut ringan hingga 1-2 hari. Kondisi yang berlangsung sejak Januari 2007 itu mencapai puncaknya pada pertengahan 2007. Sakit perut itu diiringi rasa perih dan mual. Semua makanan dimuntahkan. Kejadian itu membuat gadis kelahiran September 1983 itu lemah dan pucat.

Mia diberi nutrisi melalui infus setelah keluarganya memboyong ke rumahsakit di Bekasi. Berselang 2 hari kondisi Mia tidak kunjung membaik malah kian parah. Perutnya tampak membesar. Dokter mendiagnosis ada penyumbatan di usus besar yang perlu dioperasi. Hasil operasi di luar dugaan, penyebab penyumbatan itu ternyata tumor ganas stadium III. Ukurannya sebesar telur ayam.

Menurut dr Sunarto Reksoprawiro SpB(K) Onk, ahli bedah onkologi rumahsakit dr Soetomo, Surabaya, kanker usus dapat dipicu oleh faktor genetik. Bila riwayat keluarga ditemukan penderita kanker, maka peluang terkena kanker lebih besar. Sebab lain, konsumsi makanan berkadar lemak tinggi dan rendah serat. Lemak dicerna lama sehingga sering menumpuk di dinding usus. Bila dibiarkan, penumpukan itu membuat dinding sel usus rusak dan ujung-ujungnya kanker usus.

CEA
Pascaoperasi, Mia menjalani kemoterapi dan pengecekan nilai CEA, Carcinoembryonik Antigen, 3 bulan sekali. CEA adalah antigen tumor yang ditemukan dalam darah penderita kanker, terutama kanker usus besar, payudara, pankreas, kandung kemih, indung telur, dan leher rahim. Nilai CEA diperlukan untuk memonitor perkembangan sel kanker pascaoperasi. 'Bila nilai CEA naik pertanda tumor kambuh atau sel kanker menyebar ke organ tubuh lain,' ujar Sunarto. Enam kali menjalani kemoterapi, nilai CEA Mia normal, di bawah 5 ng/ml. Berikutnya ia tidak perlu lagi kemoterapi, tetapi cukup menjalani pemeriksaan CEA saja.

Sampai Oktober 2008, angka CEA itu masih di bawah ambang batas. Kondisi berubah pada Januari 2009 setelah Mia melakukan pemeriksaan CEA. Angka CEA 5,5 ng/ml, 3 bulan sebelumnya 3,8 ng/ml. Lonjakan angka CEA itu tak pelak membuat Mia ketar-ketir. Itulah tanda sel kanker mulai menyerang kembali. Menurut Sunarto rata-rata 50% penderita kanker usus stadium III yang telah menjalani operasi berpeluang terkena lagi.

Mia pun takut nilai CEA bakal terus naik. 'Saya tidak kuat menahan sakit seperti dulu lagi,' ujar anak ke-5 dari 6 bersaudara itu. Keluarga juga tidak tega bila Mia harus dirawat lagi. Mariam (bukan nama sebenarnya)-kakak Mia-berupaya mencari kesembuhan kanker di dunia maya. Di sana ia menemukan informasi bahwa keladitikus mujarab sebagai herbal antikanker. Mariam lantas menyarankan Mia mencoba obat herbal itu.

Keladitikus
Sebanyak 60 tanaman keladitikus seharga Rp5.000/tanaman langsung dibeli dari penyedia tanaman herbal di Bekasi. Mia mengolah satu tanaman utuh untuk sekali minum. Umbi, batang, dan daun ditumbuk halus lalu diperas. Mia meminum air perasan itu dengan sesendok madu setiap pagi dan sore. Sebulan rutin mengkonsumsi, hasil bagus mulai tampak. Saat dicek pada Februari 2009, angka CEA turun, 2 ng/ml. Hasil positif itu membuat Mia rajin mengkonsumsi keladitikus sampai sekarang. Pemeriksaan pada Maret 2009, angka CEA ajek di 2 ng/ml. Artinya sel kanker gagal berkembang alias tidak kambuh lagi di tubuh Mia.

Hilangnya sel-sel kanker di tubuh Mia bukan suatu kebetulan. Rubiyantoro, herbalis dari Kampoeng Herba, di Pekayon Jaya, Bekasi, Jawa Barat, mengatakan keladitikus memang ampuh melawan kanker. Anggota famili Araceae itu juga bekerja baik mencegah kanker berulang pascaoperasi. Khasiat lain mencegah efek buruk kemoterapi. Mereka yang menjalani kemoterapi dan mengkonsumsi keladitikus secara teratur terbukti nafsu makannya pulih, rambut tidak mudah rontok, dan rasa sakit di badan berkurang.

Hasil penelitian Choon-Sheen Lai, periset dari Pusat Penelitan Obat, Universitas Sains Malaysia, membuktikan keladitikus Typhonium flagelliforme menghambat pertumbuhan sel kanker dan menginduksi apoptosis. Menurut Choon nilai IC50-konsentrasi yang menyebabkan kematian 50% populasi sel uji- ekstrak heksan dan diklorometana (DCM) keladitikus berturut-turut adalah 53,89 μg/ml dan 15,43 μg/ml. Artinya dosis 53,89 μg/ml dan 15,43 μg/ml ekstrak heksan dan DCM keladitikus ampuh menghambat 50% pertumbuhan sel kanker.

Hasil itu diperkuat penelitian Peni Indrayudha dari Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah. Peni membuktikan keladitikus mengandung Ribosom Inactivating Proteins RIPs. RIPs menghambat sintesis protein pada sel kanker sehingga perkembangannya terpasung.


Alat dan wadah tumbuk berbahan nonlogam seperti keramik atau gerabah tanah liat. Ketika seluruh bagian tanaman lumat, Rubiyantoro menambahkan 1 sendok makan air matang. Adonan itu diaduk rata lalu diperas dengan kain bersih. Dari 3 tanaman ia memperoleh rata-rata 1,5 sendok makan perasan keladitikus. Air perasan itu siap konsumsi setelah ditambah setengah sendok makan madu. Dengan cara itu, keladitikus bebas gatal di tenggorokan.

Idealnya perasan keladitikus diminum saat itu juga. Berselang 10-12 jam setelah pengolahan, muncul aroma tak sedap, sehingga tidak layak minum. Bagi yang tidak mau repot mengolah sendiri, di pasaran terdapat banyak merek ekstrak keladitikus. Misal dalam bentuk kapsul ekstrak keladitikus.